Diakui, Usianya Ratusan Tahun PDF Cetak E-mail
Selasa, 25 Januari 2011 11:25
Setelah sebelumnya warga Kota Probolinggo digemparkan oleh sosok Pok Opok (Kelelawar Jadi-jadian-red). Kali ini, seorang pengusaha kopi instan yang juga guru spritual, M. Hasim Dadang warga Jl. Indragiri, Kelurahan Kanigaran, Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo memperlihatkan jenglot miliknya. Seperti apa? Bagaimana jenglot itu didapat?

MAKHLUK aneh itu diakui berasal dari Gunung Kawi ini. Berbentuk makhluk mistik berbadan kecil dengan usia ratusan tahun. Danang yang mempunyai sebutan Pangeran Seto Keling mengaku kalau jenglot yang berada di tangannya ditarik dari Gunung Kawi, Malang, pada malam Jum’at Wage (20/1) lalu.
“Ini sebenarnya pesugihan tertinggi di Gunung Kawi. Sebangsa jin pesugihan. Usianya sudah ratusan tahun sejak jaman Majapahit. Dia mengaku bernama Raden Bungsu. Ya, jenisnya laki-laki,” ujar Danang kepada sejumlah wartawan di rumahnya, Senin (24/1) siang.
Untuk menarik jenglot itu, Danang tidak memerlukan ritual khusus. Bersama juru kunci di kraton Gunung Kawi, Danang hanya melakukan wiridan (dzikir) dengan secarik kain kafan di tangannya. Hanya sekitar 30 menit kemudian, jenglot itu masuk ke dalam kain kafan yang dibawanya. Selanjutnya Danang membawa jenglot itu pulang ke rumahnya menggunakan mobil.
“Sebentar saja, sekitar 30 menitan. Saya cuma duduk bersila lalu kemudian dzikir. Kalau juru kuncinya yang muda itu, kesurupan singobarong. Ada juga naga yang menjaganya,” terang guru spiritual dari tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah Mujadidiyah.
Selama dalam perjalanan pulang itu, Danang mengaku sempat berkomunikasi secara metafisik. Katanya, dia (jenglot) sempat menangis dan bertanya dengan suara anak kecil “akan dibawa kemana dan mau diapakan”. Danang kemudian menjelaskan, bahwa jenglot itu akan dibawa ke Probolinggo. Alasan ditariknya dari Gunung Kawi dengan maksud supaya orang-orang yang datang mencari pesugihan tidak lagi percaya kepada benda atau mahluk pesugihan.
“Itu kan syirik namanya. Saya prihatin kenapa rejeki jadi seret, karena pesugihan yang seperti itu. Jadi mintanya hanya kepada Allah saja,” tegas pria yang berpenampilan modis ini. Sesuai janjinya, lanjut Danang, jenglot itu akan dikubur di atas sebuah bukit di Probolinggo.
Danang sengaja mengubur jenglot itu di Probolinggo agar bisa dipantau. Namun, ia juga merahasiakan bukit mana yang akan jadi tempat kuburannya dengan alasan agar tidak ada orang yang datang mencari pesugihan. “Rencananya akan dikubur pada Rabu Wage besok malam sesuai dengan kelahiran saya,” timpalnya.
Mengenai bentuk jenglot yang dimiliki Danang, tidak seperti jenglot pada umumnya. Ukuran tubuhnya cukup tinggi dan ‘berdaging’. Kalau dalam keadaan bersila tingginya sekitar 40 cm. Kira-kira kalau kakinya yang bersila itu diukur juga maka panjang jenglot bisa sekitar 75 – 80 cm. Bau busuk menyengat juga tercium.
Dari jenglot yang ditariknya itu, Danang mendapati sebuah merah delima yang diakui sebagai matanya, dan sebuah batu rubi juga berwarna merah yang ikut ditarik dari Gunung Kawi.
Saat ditanya soal batu delima dan rubi yang dimilikinya apakah akan dijual, Danang mengisyaratkan persetujuan jika ada pembelinya. Ketika diletakkan di halaman rumah, beberapa dupa panjang dibakar tepat di depan jenglot itu.(ndi)

dari:harian bangsa religius nasionalis